Syarah Nama Allah “Al Fattaah”

Oleh : Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, selawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga selawat dan salam juga terlimpahkan buat keuarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Allah memiliki nama-nama yang sangat mulia dan indah. Kemulian dan keindahan tersebut dari dua segi; dari segi lafatz dan dari segi maknanya. Makna dari nama-nama Allah tersebut menunjukkan akan sifat Allah yang Maha Sempurna.

Sebagaimana Allah tegaskan dalam firman-Nya,

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ :الأعراف: ١٨٠.

“Dan Allah memiliki nama-nama yang indah, maka berdoalah kepadanya dengan nama-nama-Nya tersebut. Dan jauhilah orang-orang yang menyimpang dalam (memahami) nama-nama-Nya. Mereka akan dibalasi terhadap apa yang mereka lakukan”.

Tentang nama-nama Allah ada beberapa hal yang harus kita pahami sebagaimana yang terdapat pada ayat di atas:

Pertama: meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang sangat mulia lagi indah. Barangsiapa yang tidak meyakini tentang nama-nama Allah, maka orang tersebut tidak beriman kepada Allah secara utuh dan benar. Bila kita perhatikan begitu banyak ayat-ayat Al Qur’an yang ditutup dengan nama-nama Allah. Dimana makna dari nama Allah tersebut sangat erat hubungannya denga kontek ayat itu sendiri.

Kedua: nama-nama Allah tersebut menggandung makna yang sangat sempurna yang disebut sifat. Orang yang tidak meyakini tentang sifat yang terkandumg dalam nama-nama Allah berarti ia telah melakukan penyimpangan dalam beriman kepada Allah.

Ketiga: berdoa dan beribadah kepada Allah dengan nama-nama Allah tersebut. Untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah adalah dengan memahami makna dari nama-mana Alllah tersebut. Bahkan ilmu ini adalah ilmu yang sangat agung untuk dipelajari. Sehingga dalam beribadah kepada Allah benar-benar kita seakan melihat Allah. Sekaligus menimbulkan nilai khusu’ dalam beribadah, karena saat beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Atau kita merasa sedang dilihat Allah.

Setelah memperhatikan hal yang tersebut di atas semakin jelaslah bagi kita betapa pentingnnya untuk menjelaskan dan mempelajari makna dari nama-nama Allah tersebut. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan pula dalam sabdanya,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال (( إن لله تسعة وتسعين اسما مائة إلا واحدا من أحصاها دخل الجنة )). [متفق عليه].

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu, barangsiapa yang menghafalnya akan masuk surga”. (HR. Buhkary dan Muslim).

Kata-kata menghafalnya dijelaskan oleh para ulama, memiliki beberapa tingkatan;

Pertama: menghafalnya dengan lisan.

Kedua: memahami makna yang terkandung dalam nama-mana Allah tersebut.

Ketiga: mengaplikasikan makna tersebut dalam doa dan ibadah kita. Atau dengan kata lain menghafalnya dalam bentuk amalan[1].

Hadits di atas tidak membatasi tetang jumlah keseluruhan nama-nama Allah, tetapi membatasi tentang jumlah untuk memperoleh janjian yang terdapay dalam hadits tersebut yaitu masuk surga.

Karena dijelaskan dalam hadist lain bahwa jumlah keseluruhan nama Allah tidak dapat diketahui sekalipun oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana yang terdapat dalam doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو علمته أحدا من خلقك أو أنزلته في كتابك أو استأثرت به في علم الغيب عندك)) رواه أحمد وغيره.

”Aku bermohon dengan segala nama yang Engkau miliki, yang Engkau beri nama denganya diri-Mu, atau Engkau beritahu akannya salah seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu di alam ghaib”. (HR. Ahmad dll, hadits ini dishahihkan oleh Ibnul Qoyyim dan Syeikh Albany)[2].

Dalam hadits ini menyebutkan tiga bagian dari nama-nama Allah:
Bagian pertama: nama yang Allah beritahu sebahagian dari makhluk-Nya, baik dari kalangan malaikat atau lainnya, tetapi tidak diturunkan dalam kitab suci Allah.
Bagian kedua: nama yang Allah turunkan dalam kitab suci-Nya.
Bagian ketiga: nama yang Allah sembunyikan di sisi-Nya di alam ghaib.

Maka nama-nama Allah yang dapat kita ketahui hanyalah yang terdapat dalam kitab Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Menurut pendapat ulama yang telah melakukan penelitian dalam hal ini menyatakan bahwa nama-nama Allah yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits-hadits shohih lebih jumlahnya dari sembilan puluh sembilan[3].

Lalu bagaimana memahami kedua hadits diatas? Kedua hadits tersebut tidak saling bertentangan. Karena hal tersebut bisa dipahami dalam contoh berikut. Jika seseorang mengatakan: saya memiliki sembilan puluh sembilan ribu untuk saya infaqkan. Tentu tidak akan dipahami bahwa ia tidak memiliki uang yang lain. Boleh jadi ia memiliki uang dua ratus ribu, tapi yang diimfaqkannya berjumlah sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Dengan demikian kedua hadits tersebut sangat mudah untuk digabungkan pemahamannya. Yang penting hafal sembilan puluh sembilan nama Allah sebagai tebusan untuk mendapatkan surga. Nama-nama yang dihafal mungkin saja berbeda lafazhnya (konteknya) tetapi jumlahnya sama. Karena nama-nama Allah lebih dari sembilan puluh sembilan.

Pada kesempatan kali ini kita akan menjelaskan tentang nama Allah “Al Fattaah” (الفتاح) salah satu dari nama-nama Allah yang indah.

Secara etimologi (bahasa) makna kata (الفتّاح) dalam bahasa arab berarti:

“Al Haakim” (yang memutuskan perkara dengan adil)[4]. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah,

رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لاَتُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ : الأعراف: ٨٩

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya”.

Kata-kata “Al Fath” (الفتح) juga bisa berarti: kemenangan atau pertolongan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

إِن تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَآءَكُمُ الْفَتْحُ : الأنفال: ١٩

“Jika kalian meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan itu kepada kalian”.

Berkata Imam Ath Thabary:

وأصل”الفتح” في كلام العرب: النصر والقضاء، والحكم. يقال منه:”اللهم افتح بيني وبين فلان”، أي احكم بيني وبينه. (تفسير الطبري: 2/254).

“Asal kalimat “Al Fattaah” dalam bahasa Arab baerati: kemenangan (petolongan), keputusan dan hukum. Dikatakan orang: Ya Allah bukakanlah antara aku dan sipulan, artinya: berilah keputusan antara aku dan dia”[5].

Adapun makna “Al Fattaah” (الفتّاح) secara syar’i sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah beserta penjelasan para ulama, “Al Fattaah” (الفتّاح) adalah salah satu di antara nama-nama Allah yang mulia. Nama ini terdapat dalam Al Qur’an, dalam surat As Saba’ ayat 26 yang berbunyi:

وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

” Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”

Para ulama menjelaskan bahwa nama Allah “Al Fattaah” memiliki makna yang sangat sempurna dari segala segi. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi keputusan dengan Adil dalam segala perkara yang terjadi antara sesama makhluk baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah tidak butuh kepada saksi-saksi dalam memberi keputusan hukum, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang lahir (tampak) maupun yang tersembunyi. Karena itu nama “Al Fattaah” dalam ayat di atas digandeng dengan nama Allah “Al ‘Aliim” (Yang Maha Mengetahui).

Berkata Imam Ath Thabary dalam menjelaskan maksud ayat di atas: “Katakanlah kepada mereka: Tuhan kita akan mengumpulkan kita pada hari kiamat di hadapan-Nya. Kemudian Allah akan memberi keputusan anatara kita dengan adil. Sehingga akan jelas ketika itu siapa yang mendapat petunjuk diantara kita dan siapa yang sesat. Dia Maha Peberi keputusan dan Maha Mengetahui. Hakim Yang Maha Tahu dengan keputusan diantara makhluk-Nya. Yang tidak tersembunyi bagi-Nya sekecil apa pun. Dan tidak butuh kepada saksi-saksi untuk memberi tahu siapa yang benar dan siapa yang salah”[6].
Allah-lah yang memberi keputusan antara Ahlul haq dan Ahlul batil, antara para rasul dan musuh-musuh mereka, antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir, baik di dunia maupun diakhirat kelak.

Diantara keputusan Allah terhadap antara Ahlul haq dan Ahlul batil, antara para rasul dan musuh-musuh mereka, antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir waktu di dunia adalah membela dan menolong para Ahlul hak, para rasul dan orang-orang beriman dalam menghadapi tantangan dan perlawanan dari musuh-musuh mereka. Sebagaimana Allah mengisahkan tentang kemenangan yang dibukakan Allah untuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang beriman pada waktu perang badar[7]:

إِن تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَآءَكُمُ الْفَتْحُ : الأنفال: ١٩

“Jika kalian meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan kepada kalian”.
Diantara makna “Al Fattaah” Allah menolong orang-orang beriman dalam berjuang membuka (menaklukkan) negeri-negrei kafir. Seperti dibukanya negeri Khaibar melalui Khalifa Rosyid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عن سهل بن سعد رضي الله عنه أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم يقول يوم خيبر ((لأعطين الراية رجلا يفتح الله على يديه)) . [متفق عليه].

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’at radhiallahu ‘anhu dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada waktu perang Khaibar: saya akan berikan bendera perang kepada seseorang yang Allah akan membuka kemenangan melalui tangannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula Allah memberikan janjian kepada orang-orang yang beriman tentang penaklukan kota Makkah dalam beberapa firman-Nya:

}* لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا :ﭼ الفتح: ١٨

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”.

Disebutkan lagi dalam firman Allah yang lain:

} لَّقَدْ صَدَقَ اللهُ رَسُولَهُ الرَّءْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَآءَ اللهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لاَتَخَافُونَ فَعَلِمَ مَالَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا: الفتح: ٢٧

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat“.

Kemudian Allah buktikan janjian kemenangan yang tersebut dalam ayat diatas dengan dibukanya kota Makkah, sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا :الفتح: ١

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata“.

Ayat ini menurut pendapat sebahagian ulama tafsir mengisahkan tentang penaklukan kota Makkah[8], setelah sebelumnya kaum kafir Quraisy mengusir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dari kota Makkah.

Karena itu para Nabi dan Rasul berdoa agar Allah menolong mereka dan memberi keputusan terhadap kaum mereka yang menentang mereka. Sebagaimana doa nabi Syu’aib ‘alaihissallam:

وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لاَتُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ :الأعراف: ٨٩

“Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya”.

Begitu pula doa nabi Nuh ‘alaihissallam:

قَالُوا لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَانُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ {116} قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِي كَذَّبُونِ :الشعراء: ١١٦ – ١١٨

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin yang bersamaku”.

Keputusan yang diberikan Allah tehadap kaum nabi Nuh ‘alaihissallam adalah dengan dibukanya pintu azab untuk mereka dari langit sebagaimana yang terdapat dalam kalam Allah:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ :القمر: ١

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah”.

Demikian keputusan Allah bagi setiap kaum yang menentang kebenaran dan melupakan peringatan Allah, Allah membukakan untuk mereka pintu Azab yang sangat pedih seketika itu mereka berputus asa. Sebagaimana Allah nyatakan dalam kalam-Nya:

حَتَّى إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ: المؤمنون: ٧٧

“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa”.

} فَلَمَّا نَسُوا مَاذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَآأُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ : الأنعام: ٤٤

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

Diantara keputusan dan pertolongan Allah terhadap Rasul صلى الله عليه وسلم dan orang-orang yang beriman ialah Allah bukan rahasia kemunafikan yang tersembunyi dalam diri orang-orang munafik. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةُُ فَعَسَى اللهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَآأَسَرُّوا فِي أَنفُسِهِمْ نَادِمِينَ المائدة: ٥٢

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”.

Dalam firman Allah yang lain disebutkan:

الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِن كَانَ لَكُمْ فَتْحُُ مِّنَ اللهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ وَإِن كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبُُ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُم مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَن يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً . النساء: ١٤١

“(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.

Sikap bermuka dua dalam ayat di atas adalah gambaran tetang kebiasaan orang-orang munafik. Ketika mereka berada bersama orang-orang beriman mereka seolah-olah ikut membantu perjuangan umat Islam. Tetapi sebenarnya mereka membantu orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang muslim dengan menunjukkan titik-titk kelemahan kaum muslimin kepada orang-orang kafir.
Demikian pula Allah akan memberi keputusan dengan seadil-adilnya terhadap hambanya yang berbantah-bantah di hadapan-Nya di akhirat kelak. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ. سبأ: ٢٦

“Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar (adil). Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”

Dalam firman Allah yang lain dinyatakan:

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ. الزمر: ٣١

“Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu”.

Berkata Ibnu katsir: “Maksud ayat ini; sesungguhnya kalian pasti akan berpindah dari dunia ini. Kalian akan berkumpul di hadapan Allah pada hari kiamat. Kemudian kalian berbantah-bantah di hadapan Allah tentang perkara tauhid dan syirik waktu di dunia. Maka Allah akan memberi keputusan dengan hak (adil). Dia Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui. Maka Allah menyelamatkan orang-orang mukmin, orang-orang yang bertauhid serta orang-orang yang ikhlas. Dan Allah mengazab orang-orang yang kafir, orang-orang yang mengingkari (ayat-ayat Allah), orang-orang yang musyrik serta orang-orang yang mendustakan (kebenaran)” [9].

Disebutkan Allah lagi dalam firman-Nya yang lain, bahwa kemenangan pada hari akhirat kelak bukanlah milik orang-orang kafir:

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْفَتْحُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ. السجدة: ٢٨ – ٢٩

“Dan mereka bertanya: “Bilakah kemenangan itu (datang) jika kamu memang orang-orang yang benar? Katakanlah: “Pada hari kemenanganitu tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh”.

Ketika orang-orang kafir bertanya kepada orang-orang beriman secara olok-olok tentang hari kemenangan. Allah menjawab olok-olokan mereka dengan jawaban yang membuat mereka kecewa dan terancam.
“Al Fattaah“ (الفتّاح) juga berarti: Maha Pembuka segala kunci kebaikan atas seluruh hamba-Nya. Baik berupa iman, ilmu dan petunjuk. Barangsiapa yang dibukakan baginya kebaikan tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Demikian pula barangsiapa yang ditutup dan dikunci hatinya oleh Allah tidak seorang pun yang dapat membuka dan menunujukinya. Allah berfirman:

} مَّايَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا وَمَايُمْسِكْ فَلاَ مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. فاطر: ٢

“Apa yang dibukakan Allah kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“.

Berkata Hafizh Al Hakamy: “Al Fattaah” adalah Zat Yang Membuka terhadap siapa yang dikehendaki-Nya tentang apa yang dikehendaki-Nya pula, dari berbagai karunia-Nya yang luas. Bagi yang ini dibukakan untuknya harta, bagi yang satu lagi dibukakan untuknya kekuasaan, bagi yang lain dibukakan untuknya ilmu dan hikmah. Demikianlah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang besar. “Apa yang dibukakan Allah kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“[10].

Oleh sebab itu Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa ketika kita akan memasuki masjid.

(( اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ )) [رواه مسلم].

“Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu”. (HR. Muslim).
“Al Fattaah” (الفتّاح) juga berarti: Maha Pembuka pintu-pintu rezki dan rahmat untuk para hamba-Nya yang bertaqwa. Sebagaimana yang terdalam kalam-Nya yang suci:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. الأعراف: ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.
Kemudian segala kuci yang ghaib hanya berada di sisi Allah. Tidak ada yang dapat membuka dan mengetahuinya kecuali Allah subhaanahu wat’ala. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍالأنعام: ٥٩

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”.

Allah membuka sebagian dari hal yang hgaib bagi siapa yang dikehendaki diantara hamba-Nya dari rasul-rasul. Sebagaimana yang terdalam kalam-Nya yang mulia:

وَمَاكَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِن رُسُلِهِ مَن يَشَآءُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرُسُلِه. آل عمران: ١٧٩

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya”.
Di padang mahsyar Allah akan membukakan (mengajarkan) kalimat-kalimat pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memuji kepada-Nya. Sehingga mebuka pintu syafaat bagi seluruh umat manusia untuk berhisab. Yang mana kalimat-kalimat pujian tersebut belum pernah diketahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya sewaktu di dunia. Sebagaimana beliau ungkapkan dalam sabda beliau:

عن أنس رضي الله عنه عن الرسول صلى الله عليه وسلم قال (( إذا كان يوم القيمة ماج الناس بعضهم في بعض فيأتون آدم فيقولون اشفع لنا إلى ربك فيقول لست لها ولكن عليكم بإبراهيم فإنه خليل الرحمن فيأتون إبراهيم فيقول لست لها ولكن عليكم بموسى فإنه كليم الله فيأتون موسى فيقول لست لها ولكن عليكم بعيسى فإنه روح الله وكلمته فيأتون عيسى فيقول لست لها ولكن عليكم بمحمد صلى الله عليه و سلم فيأتونني فأقول أنا لها فأستأذن على ربي فيؤذن لي ويلهمني محامد أحمده بها لا تحضرني الآن فأحمده بتلك المحامد)). [متفق عليه].

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: apabila jari kiamattelah terjadih (saat itu) manusia akan saling berdesak-desakan. Maka mereka datang kepada Adam u mereka berkata: mintakkanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Adam menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Ibrohim sesungguhnya dia Khaliilullah. Maka mereka mendatangi Ibrohim. maka Ibrohim pun menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Musa sesungguhnya dia Kaliimullah. Maka Musa pun menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Isa sesungguhnya dia Ruhullah. Maka Isa pun menjawab: saya tidak behak untuk itu, tetapi datangilah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka mereka datang kepadaku. Saya menjawab: saya yang berhak untuk itu. maka saya memohon izin kepada Tuhan-ku, lalu Aku diberi izin. Dan Allah mengilhamkan kepadaku puji-pujian sebagai pujianku pada-Nya yang tidak aku ketahui sekarang. Maka aku memujinya dengan puji-pujian tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dengan lafahz:

((ثم يفتح الله علي من محامده وحسن الثناء عليه شيئا لم يفتحه على أحد قبلي)) [متفق عليه، من حديث أبي هريرة رضي الله عنه.]

“Kemudian Allah membukakan bagi-ku dari puji-pujiann dan sanjungan indah untuk-Nya yang belum pernah dibukakan bagi seorang pun sebelumku”.
Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil melalui nama Allah “Al Fattah“:

Berikutnya kita sebutkan beberapa faedah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari mengetahui dan memahami makna dari nama Allah “Al Fattaah“. Sebetulnya inilah tujuan yang sesungguhnya bagi seorang muslim dalam mengetahui nama-nama Allah tersebut. Dimana hal tersebut memberikan bekas dan pengaruh kepada iman dan ibadah serta akhlak seorang muslim dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan memahami makna nama Allah “Al Fattaah” akan menumbuhkan sifat-sifat yang mulia dalam diri seorang muslim, diantaranya:
Menumbuhkan sifat tawakkal dalam diri seorang mukmin terutama bagi seorang da’i dalam menghadapi tantangan di medan dakwah. Sebagaimana para nabi dan rasul bertawakal dalam da’wah mereka. Dengan keyakinan bahwa Allah Maha Pemebri keputusan dengan adil terhadap hamba-hamba-Nya.

Imam Ibnul Qoyyim menerangakan bahwa sifat tawakkal sangat erat hubungannya dengan nama-nama Allah yang mulia diantaranya nama Allah “Al Fattaah“[11].
Menumbuhkan sifat ikhlas dalam meminta petunjuk dan rezki kepada Allah, karena Allah yang berkuasa membuka hati seseorang untuk menerima petunjuk. Dan Allah jualah yang berkuasa membukakan pintu rezki begi seorang hamba.

Bila hal ini dapat kita tanamkan dalam diri kita, tentu kita tidak akan meminta sekalipun kepada sang kiyai atau wali yang sudah mati. Kita tidak meminta kecuali hanya kepada Allah semata. Kalau waktu di dunia hidup sang wali dari sedekah jama’ah kajian, munginkah setelah mati ia dapat memberi kita rezki, petunjuk dan lain-lain.
Menumbuhkan sikap Rajaa’ (berharap kepada rahmat dan pertolongan Allah) dalam diri seorang muslim. Karena segala kuci rahmat dan kebaikan berada di sisi Allah. Tidak ada yang mampu membuka pintu-pintu rahmat tersebut kecuali Allah. Pintu-pintu rahmat Allah akan terbuka di dunia ini untuk hamba-hamba yang bertaqwa. Rahmat di sini dalam artian yang luas; bisa berupa iman, ilmu, petunjuk, rezki, kesehatan, kesuksesan dan lain-lain. Adapun rahmat Allah di akhirat kelak jauh lebih luas dan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan apa yang ada di dunia.
Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, karena Allah-lah yang telah membuka hati kita untuk beriman, bertauhid dan beribadah kepada-Nya. Demikian pula Allah telah membuka pintu-pintu nikmat yang lainnya untuk kita. Mulai dari nikmat sewaktu kita dalam rahim ibu kita, kemudian kita terlahir dengan selamat tanpa cacat, kemudian senantiasa pintu nikmat dan rahmat tidak pernah ditutup Allah di hadapan kita. Tidak-kah selayaknya kita bersyukur pada Allah …?!!!. Kita tidak pernah terlepas dari nikmat Allah walau satu detik saja.
Memupuk rasa ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Karena pintu rahmat Allah akan senantiasa terbuka untuk orang-orang yang bertaqwa. Kesulitan mendapatkan pekerjaan, harga barang yang senantiasa melonjak, musibah yang tak henti-hentinya. Tidak ada yang bisa mengeluarkan kita dari pintu kesulitan kepada pintu yang luas penuh kebahagian dan ketentraman kecuali Zat Yang Maha Pembuka segala kesulitan (Al Fattaah). Mari kita kita simak kalam Allah berikut ini:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. الأعراف: ٩٦

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membukakan untuk mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

اْلأَخِرِ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ….. الطلاق: ٢ – ٣

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا. الطلاق: ٤

“Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”.

Demikianlah bahasan kita kali ini, semoga Allah senantiasa membuka pintu hati kita dengan iman, ilmu dan amal serta membuka pintu-pintu rezki untuk kita, anak kita dan saudara-saudara kita seiman. Wallahu A’lam.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك

———————————————

[1] lihat: “Faidah al Jaliilah fi qawa’id al husnaa” min “Badai’ Al fawaid” tahqiq syeikh Abd Rozaq al badr.
[2] lihat: “Syifaa’ul ‘aliil” hal 274 & “Silsilah Ash shohihah” 1/336.
[3] lihat: “Al fatawa al Kubra”: 1/217, “Majmu’ al Fatwa”: 22/482, “Mausuu’ah asma wassifat”: 1/18-25.
[4] lihat: “An Nihaayah Fi Ghariibil Hadits: 3/406, “Lisanul ‘Arab”: 2/539.
[5] lihat: “Tafsir Ath Thobary: 2/254.
[6] lihat: “Tafsir Ath Thobary: 22/95.
[7] lihat: “Tafsir Al Qurtuby: 7/386 & “Tafsir Ibnu Katsir”: 2/297.
[8] Lihat “Tafsir Al Qurtuby: 7/387.

[9] lihat: “Tafsir Ibnu Katsir”: 4/53.

[10] lihat: “Ma’arijul Qobul”: 1/48.

[11] Lihat: “Madarijus Saalikiin”: 2/125.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s